Recap DevFest Bandung 2025: Drama Rem Blong, Salah Gedung, hingga Debat Panas Programmer
Nov 30, 2025
6 min read

Cerita perjalanan ke DevFest Bandung 2025 ini bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal petualangan tak terduga yang dimulai sejak hari Jumat.
Saya mengambil cuti di hari Jumat untuk berangkat lebih awal bersama teman saya, Jovan (@jovaneah). Kami naik kereta dari Stasiun Jatinegara menuju Cimahi. Perjalanan 3 jam yang cukup santai sebelum “badai” kegiatan dimulai. Sesampainya di sana, kami menginap di rumah Keluarga Jovan.
Sore harinya, kami memutuskan cari makan dan jalan-jalan di sekitar Cimahi menggunakan motor yang ada di rumah, sebuah Supra X legendaris. Niat hati ingin ke tempat wisata lewat jalur Lembang, kami memilih rute Punclut. Bagi yang tahu, jalur ini terkenal dengan tanjakan dan turunannya yang ekstrem.

Di sinilah drama dimulai. Saat melewati turunan panjang, motor terasa tidak enak. Sesampainya di bawah, kami berhenti sejenak untuk mengecek. Ternyata benar saja, rem kaki sudah tidak pakem karena kepanasan (overheat). Jantung rasanya mau copot, untung kami tidak jatuh. Akhirnya, kami memutuskan berhenti di sebuah warung, minum teh hangat sambil melihat pemandangan Punclut untuk menenangkan diri. Rencana ke tempat wisata pun batal demi keselamatan, kami memilih balik ke rumah saja.
Hari H: Kesiangan & Reuni Dadakan
Sabtu pagi, 29 November 2025. Entah kenapa, saya lupa pasang alarm. Kami terbangun jam 6 lewat! Panik, kami langsung siap-siap dan gas menuju Universitas Kristen Maranatha.

Sesampainya di venue, ribuan orang sudah memadati lokasi. Kami mengikuti arahan panitia menuju Main Stage. Kejutan menyenangkan terjadi sebelum acara mulai: saya bertemu Hafiz (@hafizrp23), kakak kelas waktu SMK dulu. Dunia sempit banget. Akhirnya kami duduk berdekatan dan ngobrol banyak sebelum sesi dimulai.

The “Lost” Moment & Tragedi Laptop
Sesi pagi berjalan lancar hingga jam 12 siang. Saat istirahat, saya dan Jovan keliling booth sponsor. Barang-barangnya keren semua, tapi dompet berkata “lihat-lihat saja dulu”.
Drama terjadi lagi saat mau lanjut ke sesi berikutnya. Kami dengan pede naik ke lantai 3 untuk ikut sesi Cloud. Sampai di sana, kok sepi? Ternyata… kami salah gedung. Sesi Cloud itu ada di gedung sebelah (Gedung GWM). Kami cuma bisa ketawa miris sambil turun lagi dan lari ke gedung yang benar.
Begitu masuk kelas workshop, pemandangannya bikin saya insecure. Hampir semua peserta sudah siap dengan laptop terbuka, menyala, dan siap coding. Sedangkan saya? Tas saya ringan karena laptop tertinggal di Rumah.
Tapi ya sudahlah, show must go on. Saya tetap menyimak materi yang ternyata sangat seru, dan untungnya beberapa fitur Google Cloud masih bisa saya eksplorasi tipis-tipis lewat HP.
Berikut adalah highlight materi yang berhasil saya tangkap (tanpa laptop) dan sangat relevan buat saya sebagai Web Developer:
1. Web Development: CSS Makin “Sakti”
Sesi dari Sandhika Galih (WPU) tentang “CSS in Motion” benar-benar membuka mata. Beliau mendemokan fitur baru seperti Scroll-driven Animations dan Select Menu API. Kamu bisa cek kode demonya di GitHub beliau.
Intinya, kita bisa bikin animasi web yang kompleks tanpa bikin browser berat karena kebanyakan JavaScript (heavy scripting). Semuanya native CSS. Buat saya yang sering berkutat dengan optimasi frontend di agensi, ini kabar baik. Kita nggak perlu bergantung 100% pada library JS pihak ketiga hanya untuk sekadar bikin UI interaktif.
2. Performance is Money
Mas Eko Kurniawan (Programmer Zaman Now) membawakan topik “The Magic of 1 Second”. Poinnya menohok: Premature optimization is evil, tapi mengabaikan performa di level production adalah bencana.
Data menunjukkan delay 1 detik saja bisa bikin konversi penjualan drop. Ini validasi keras saat manage server klien. Startup time aplikasi dan efisiensi code itu investasi jangka panjang.
3. Era Gemini 3.0: Dari “Thinking” ke “Action”
Salah satu poin menarik di sesi pembuka oleh Mas Danang Juffry (Google Community Manager) adalah tentang evolusi AI. Beliau menjelaskan pergeseran fase AI:
- Gemini 1.0: Era Understanding (Memahami).
- Gemini 2.0: Era Thinking (Berpikir/Brainstorming).
- Gemini 3.0: Era Action (Bertindak).
Di era Gemini 3.0 ini, AI bukan cuma teman ngobrol, tapi sudah bisa eksekusi tugas kompleks. Namun, ada peringatan keras dari para panelis tentang bahaya “Vibe Coding” istilah buat developer yang cuma modal prompt ke AI, terima jadi, tanpa ngerti alur atau sintaksnya. AI itu Copilot, pilotnya tetap kita.
Saya sudah menulis ulasan mendalam dan teknis tentang fitur-fitur baru Gemini 3.0 serta cara memanfaatkannya secara maksimal. Kamu bisa baca selengkapnya di artikel saya: Review Gemini 3.0: Era Baru AI yang Lebih “Sat-Set” untuk Developer.
4. Debat Panas: Generalis vs Spesialis
Sesi Live Podcast penutup sangat pecah. Ada debat antara Mas Ibnu Sina Wardy (Tim Generalis) dan Mas Sidiq Permana (Tim Spesialis).
- Tim Generalis: Programmer jago teknis itu niche. Lebih baik jadi generalis yang paham produk/bisnis untuk solusi cepat (cocok buat UMKM).
- Tim Spesialis: Level Enterprise butuh kualitas code tinggi (investasi). Mereka butuh spesialis yang paham deep engineering.
Di sini saya merasa sangat relate. Sebagai alumni SMK, kita sebenarnya dicetak jadi Generalis (bisa pasang kabel LAN, instal OS, sampai coding dasar). Jadi argumen Mas Ibnu soal “Generalis lebih cepat solusiin masalah” itu terasa valid banget buat saya di dunia kerja nyata, terutama di tempat saya bekerja. Tapi tantangannya sekarang adalah memilih satu spesialisasi biar gak cuma jadi “tukang servis umum” selamanya, agar nilai tawar kita tetap tinggi di hadapan AI.
Rencana Implementasi
Jujur, pulang dari Bandung kepala rasanya penuh ide. Enggak mau cuma jadi penonton, ini Rencana Implementasi konkret yang akan saya lakukan pasca-DevFest:
- Refactor Project: Saya akan mulai mengganti animasi JS berat di project saya dengan teknik CSS Scroll-driven Animations ala Mas Sandhika biar load website klien makin ngebut.
- Optimalisasi Server: Mengecek ulang konfigurasi Server dan startup time aplikasi di kantor. Ingat kata Mas Eko: 1 second matters!
- Eksplorasi Vertex AI: Lanjut ngulik Vertex AI Search yang sempat saya coba di HP tadi, tapi kali ini dengan dataset riil dari pekerjaan saya.
Kesan & Harapan untuk DevFest
Secara keseluruhan, DevFest Bandung 2025 sukses memberikan pengalaman lengkap: dari deg-degan karena rem blong di Punclut, drama salah gedung, hingga recharging semangat coding lewat materi daging. Panitianya keren, flow ribuan peserta teratur, dan vibes komunitasnya positif banget.
Harapan saya untuk DevFest tahun depan: Semoga kuota workshop-nya bisa ditambah karena antusiasmenya gila-gilaan, dan mungkin bisa ada sesi khusus “fail stories” di mana developer senior cerita kegagalan mereka (biar junior gak insecure banget, hehe). Dan tentunya, semoga tahun depan saya gak lupa bawa laptop lagi!
Penutup: Pulang dengan Cikuray
Acara selesai sore hari dengan kepala penuh insight baru. Minggunya, kami pulang ke Jakarta naik kereta Cikuray pagi. Perjalanan 3 jam menuju Jatinegara diisi dengan tidur pulas (efek lelah fisik dan mental).

Pelajaran terbesar buat saya?
- Inovasi teknologi makin cepat, kita harus adaptasi.
- Cek kondisi motor sebelum nanjak ke Punclut.
- Jangan lupa bawa laptop kalau mau ikut workshop developer!
Inovasi tanpa batas dimulai dari Bumi Pasundan. Sampai jumpa di DevFest selanjutnya!