Panduan Lengkap Memilih Web Monitoring System: Dari Uptime Kuma, Gatus, hingga Prometheus

Dec 2, 2025

5 min read

Pernah nggak sih lagi asik tidur nyenyak di malam Minggu, tiba-tiba HP bunyi terus-menerus? Pas dicek, ternyata pesan panik dari klien: “Mas, website mati! Error 500!”

Kalau belum pernah, selamat, Anda termasuk golongan yang beruntung. Tapi bagi kita yang berkecimpung di dunia infrastruktur IT dan web development, ada satu hukum tak tertulis: “Downtime adalah uang yang terbakar.”

Klien tidak peduli seberapa bersih kode yang Anda tulis atau seberapa canggih teknologi yang dipakai. Kalau website mereka tidak bisa dibuka, itu bencana. Di sinilah peran vital Monitoring System.

Tapi, pilihannya banyak banget! Ada yang gratisan, ada yang bayar mahal, ada yang harus coding, ada yang tinggal klik. Artikel ini akan membedah opsi-opsi tersebut biar Anda nggak salah pilih “satpam” buat server Anda.


Kategori 1: SaaS (Software as a Service) – “Kaum Terima Beres”

Ini adalah solusi buat Anda yang menganut prinsip peace of mind. Nggak mau ribet setup server buat monitoring server (karena kalau server monitoringnya mati, siapa yang monitor?).

1. Uptime Robot

Pemain paling legendaris di kancah ini. Kalau ada Hall of Fame buat monitoring tools, Uptime Robot pasti masuk.

  • Kenapa Populer? Gratis (untuk 50 monitor), interval 5 menit, dan setup-nya cuma butuh 30 detik.
  • Kelebihan: Sangat stabil. Server mereka tersebar di seluruh dunia, jadi jarang ada false alarm.
  • Kekurangan: Fitur di versi gratisan terbatas. Kalau mau cek SSL expiry atau interval 1 menit, harus bayar.
  • Vonis: Cocok banget buat Project Klien atau Toko Online UKM. Ini solusi paling aman biar Anda tahu duluan sebelum klien komplain.
Tampilan klasik Uptime Robot. Sederhana, tapi fungsional.

2. Better Stack (ex. Better Uptime)

Kalau Uptime Robot itu Nokia, Better Stack ini iPhone-nya. Tampilannya modern, sleek, dan fokus pada manajemen insiden.

  • Fitur Killer: Bisa nelpon Anda (literal phone call) kalau server down. Jadi nggak ada alasan “nggak denger notif WA”.
  • Vonis: Cocok buat Startup yang punya budget lebih dan butuh incident management yang rapi.
Dashboard Better Stack yang memanjakan mata.

Kategori 2: Self-Hosted GUI – “Si Cantik Idola Homelab”

Buat Anda yang punya VPS nganggur atau hobi ngulik di Homelab, kategori ini adalah surga. Anda punya kendali penuh atas data monitoring Anda.

3. Uptime Kuma

Ini dia “Raja Baru” di dunia open-source monitoring. Dibuat pakai Vue.js, tampilannya jauh lebih segar daripada tools monitoring jadul.

  • Kenapa Keren? 100% Gratis, Open Source, dan install-nya gampang banget pakai Docker.
  • Fitur Asik:
    • Dashboard status page yang bisa dikustomisasi (bisa dipasang di domain sendiri, misal status.romi.my.id).
    • Notifikasi lengkap: Telegram, Discord, WhatsApp, Slack, sampai Email.
    • Bisa monitor sertifikat SSL (biar nggak lupa perpanjang!).
  • Tapi Ingat: Monitoring the monitor. Kalau server VPS tempat Uptime Kuma ini mati, ya monitoringnya ikut mati.
  • Vonis: Wajib coba buat Homelab, Kantor IT Support, atau Freelancer yang punya server dedicated.
Uptime Kuma: Definisi monitoring yang estetik dan powerful.

Kategori 3: GitOps & Code-Based – “Automated & Developer Centric”

Ini kategori favorit saya buat project open source atau dokumentasi. Kenapa? Karena gratis selamanya dan nggak butuh server!

4. Upptime

Konsepnya jenius: Memanfaatkan GitHub Actions buat nge-ping website tiap 5 menit.

  • Cara Kerja: GitHub Actions jalan -> Cek website -> Catat hasil di GitHub Issues -> Tampilkan grafik di GitHub Pages.
  • Biaya: Rp 0,- (Selama masih masuk limit GitHub Free Tier).
  • Vonis: Solusi terbaik buat Portfolio, Dokumentasi, atau Project Open Source. Zero maintenance cost!
Status page Upptime yang di-host langsung di GitHub Pages.

5. Gatus

Kalau Anda tipe developer yang alergi klik-klik mouse dan lebih suka konfigurasi pakai kode (YAML), Gatus adalah jodoh Anda.

  • Filosofi: Monitoring as Code. Semua konfigurasi endpoint disimpan di file config.yaml.
  • Kelebihan: Sangat ringan (ditulis pakai Go) dan stateless. Cocok banget buat ditaruh di Kubernetes.
  • Vonis: Mainan wajib buat DevOps Engineer dan pengguna Kubernetes.
Gatus: Simpel, bersih, dan konfigurasi via code.

Kategori 4: The Heavyweights – “Senjata Berat”

Sering banget ada yang nanya: “Bang, kenapa nggak pakai Prometheus sama Grafana aja sekalian?“

6. Prometheus + Grafana

Jawabannya simpel: Overkill.

Ibarat mau motong bawang, Uptime Robot itu pisau dapur, sedangkan Prometheus + Grafana itu gergaji mesin. Beda fungsi, beda liga.

  • Fungsi Utama: Bukan sekadar cek “Hidup/Mati”, tapi Observability. Mereka merekam CPU load, RAM usage, traffic per second, latency, hingga error rate.
  • Kompleksitas: Tinggi. Anda butuh exporter, butuh storage, butuh query language (PromQL) buat bikin grafik.
  • Vonis: Gunakan ini untuk Aplikasi Skala Besar (Enterprise), Microservices, atau sistem kritis yang butuh data performa mendalam. Jangan pakai ini cuma buat monitor blog pribadi, boros resource!
Grafana: Cantik tapi butuh effort lebih untuk setup.

Tabel Perbandingan Singkat

Biar gampang milihnya, coba cek tabel rangkuman ini:

Nama ToolTipeBiayaTingkat KesulitanBest Use Case
Uptime RobotSaaSFreemiumSangat MudahWebsite Klien / Toko Online
Uptime KumaSelf-HostedGratisMudah (Docker)Internal Office / Homelab
UpptimeGitOpsGratisSedangPortfolio / Open Source
GatusConfig CodeGratisMenengahKubernetes / DevOps
PrometheusObservabilityGratisSulit (Complex)Enterprise / Big Data

Kesimpulan: Jadi Pilih Mana?

Memilih alat monitoring itu bukan soal mana yang paling canggih, tapi mana yang paling efisien buat kasus Anda.

  1. Mau tidur nyenyak tanpa ribet? Uptime Robot.
  2. Punya server sendiri dan suka tampilan visual? Uptime Kuma.
  3. Mau gratisan selamanya tanpa sewa server? Upptime.
  4. Butuh data performa mendalam buat aplikasi besar? Prometheus + Grafana.

Ingat, alat terbaik adalah alat yang sesuai dengan kebutuhan infrastruktur dan tim Anda. Jangan sampai biaya monitoring (waktu & uang) lebih mahal daripada harga servernya sendiri!

Romi Muharom